Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2008

Google Translate Bahasa Indonesia

ALHAMDULILLAH SEKARANG SUDAH TERSEDIA

Sekarang, Anda tak perlu bingung lagi untuk membaca web dalam bahasa asing. Kini anda tidak perlu bersusah payah dan repot dalam memahami isi website dengan bahasa asing, karena google telah menambahkan bahasa Indonesia ke dalam mesin terjemah Google.... Google mengklaim bahwa mesin terjemahan miliknya adalah yang terbaik di dunia karena menggunakan pendekatan terjemah dengan pendekatan terjemahan manusia dengan menggunakan banyak jenis vocabulary dan grammar tentunya.


Ya! Bahasa Indonesia telah dimasukkan dalam daftar bahasa yang ada di Google Translate. Ada 11 bahasa dunia yang baru di masukkan ke dalam Google Translate, antara lain bahasa Catalan, Filipina, Hebrew, Indonesia, Latvia, Lithuania, Serbia, Slowakia , Slovenia, Ukrainia dan Vietnam. Sehingga untuk saat ini, google translate telah mendukung 35 bahasa Internasional.

Cara kerja dari mesin terjemah online milik google ini adalah dengan menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa perantara…

Kebun Hikmah

Konon, makhluk yang bernama "hikmah" itu memang selalu ada di mana-mana, kapan saja selama kita mau mengambilnya. Ia bahkan hampir seperti jumlah tarikan nafas bagi makhluk di seantero dunia. Bayangkan! Ini merupakan suatu indikasi bahwa pada hakikatnya, hikmah tidaklah benar-benar konkret, wujud di luar alam pikiran kita. Ia hanya ada dalam jiwa manusia yang mau memetiknya. Di tengah hiruk pikuk kermaian kota, di tepi jurang yang curam, di belantara rasa yang paling dalam, hikmah selalu memberikan ruang kesadaran bagi mereka yang mau berfikir.

Itulah kemudian mengapa, dalam sebuah pepatah arab dikatakan "hudzil hikmah walau kharajat min dubur al-kalbi". Ambillah hikmah di mana saja, meskipun ia keluar dari anjing. Poin penting yang ingin disampiakn pepatah tersebut adalah bahwa hikmah dan kebijaksanaan selalu elitis dan linear. Ia selalu menyeruak antara kerumunan peristiwa, entah itu baik ataupun buruk sekalipun.

Dalam sebuah hadits disebutkan, "al-hikmah dha…

Sajak-sajak Bahauddin 2

SAJAK SEBATANG CEMARA KERING
Buat karibku Hosriyanto Hobir

sebelum dirimu menjelma sebatang cemara kering, ku lihat di jantungmu mengalir gemericik air sungai, mengibarkan pijar-pijar musim pada bebutir kerikil yang bertebaran di padang dingin. kau pun menunggangi kuda perang yang memercikkan bola api dari pukulan kuku kakinya, demi menziarahi sunyi ngarai yang demikian curam.

sebagaimana sujud kemarau yang rebah di jernih retinamu, kelopak-kelopak itu masih berjatuhan dari tangkainya yang lapuk, meski hanya semilir yang berdesir, merangkai sebaris epitaf pada sepotong batu nisan yang dipahat indah dengan lelentik jemari rembulan.

maka alangkah curam lelembah kawah hatimu; desau leletih angin menunggu diammu membatu bercadas magma, jentik reriak hujan menunggu sukmamu bergemuruh sirna.

“aku hanya sebatang cemara kering”, sembari tertawa pada angin, kau pun pamit dengan bahasa Tuhan.

Madura, 2005

ALAS BULUH DINI HARI

bersama gigil angin pantai dan secangkir kopi hangat;

jejatuhan kapuk-kapuk it…

Sajak-Sajak Bahauddin 1

ORKESTRA KEBISUAN

Wahai lihatlah …
Engkau yang masih ragu menagkap isyarat angin

Andai tak ada kabut di jernih retinamu
Mungkin aku takkan menangis
Lantaran jelaga rindu di mataku
Tak terindah di kelopak beningmu

Ah, …
Andai semilir masih selalu bisu
Betapa dalam makna menuggu

Maka biarlah asa dan kebimbangan
Memucuk pilu di gugus awan
Di lelembah curam cinta
Orkestra kebisuan
Menerjemahkan nayanyian Tuhan

Robatal, 161205

GERIMIS SENJA DI WAJAHMU

Barangkali
Hanya rinai gerimis
Yang bisa merekahkaj senja
Agar lembayung merah di mataku
Menjelma biru rindu

Sampai angin pun mampu membaca
Lukisan indah di wajahmu

Ah, …
Lukisan itu kian melaut
Biru
Lantaran hempas angina
Di pantai hatimu
Berkesiur
Kencang
Menghancurkan tebing terjal
Di kawah curam cintaku

Biarlah gerimis senja
Rebah di wajahmu
Semoga abadi
Meski diammu
Tak lagi
Memanggil-manggil
Di hati …


Lounden, 181205


BERPAYUNG DAUN PISANG
(sebuah puisi persembahan)

Aku lahir dari belantara yang renta
Maka tak ada yang menungguku
Selain monody keheningan
Sehabis lelah menualangi bua…

Bahasa Al-Qur’an dalam Perspektif Psiko-sosio Linguistik

A. Teks Bahasa (Al-Quran) dan Muatan Sakralitas
Sebelum bernjak pada telaah bahasa Al-Qur’an, ada baiknya disini dikemukakan cerita-cerita tentang sakralisasi teks Al-Qur’an. Salah satu ‘ketentuan agama’ yang biasanya diajarkan waktu nyantri di pondok tradisional adalah bahwa kita tidak boleh sekali-kali menyentuh mushaf Al-Qur’an dalam keadaan tidak suci. Itu melanggar larangan Tuhan. Di daerah tertentu, bahkan bukan hanya pada teks bahasa Al-Qur’an saja, teks-teks Arab pun juga diyakini memiliki nilai magis, semisal rajah (jimat, madura)—semacam tulisan berbahasa Arab dengan komposisi tertentu yang mempunyai kekuatan magis. Syahdan, beberapa jenis tertentu dari ‘resep sakti berhuruf Arab gundul’ itu, yang tentunya juga bersumber dari agama, tidak boleh dibawa saat kita sedang punya hajat di kamar kecil. Jika ternyata kita sampai melakukannya, keampuhannya akan serta-merta menguap dan memudar.salah-salah, kita sendirilah yang kena kualat dan harus menanggung resikonya; entah mendadak…

Blog Action Day 2008 ; Blog dan Kemiskinan

Tepat enam hari yang lalu, tanggal 15 Oktober 2008 di seluruh dunia sedang diperingati hari aksi blog sedunia atau dalam bahasa Inggrisnya adalah Blog Action Day 2008. Tema yang diangkat kali ini sangat menarik, yakni tentang kemiskinan.

Kemiskinan, ditelisik dari sudut pandang manapun tetaplah merupakan musuh nyata dalam kehidupan sehari-hari, tetapi justru semakin menyeruak bagaikan benalu yang menggerogoti pepohonan. Kemiskinan, di satu sisi masih menjadi momok bagi masyarakat, tetapi di sisi lain, ia tetap menjadi semacam pijakan apologisme miris yang paradoks. Momok, karena setiap manusia pasti tak ingin menderita kemiskinan. Paradoks, karena bagaimanapun, kemiskinan selalu menjadi senjata ampuh untuk berapologi.

Tengoklah, betapa banyak orang yang ‘lumayan’ mampu, tetapi tetap saja memburu bantuan dari pemerintah? Sehingga dibentuklah panitia pengentas kemiskinan, dengan program zakat pada bulan Ramadhan, beasiswa tidak mampu dan sebagainya. Saat ini, orang banyak yang mengaku ti…

DI PUNCAK BROMO: MENGOKOHKAN SOLIDITAS DAN INTELEKTUAITAS

Ada banyak pesona keindahan yang terhampar di puncak Bromo. Alam yang sebagian besar masih perawan, menambah keelokan semesta raya, terlalu indah untuk dilupakan. Lautan kabut di sepanjang mata memandang, telah menghadirkan gerimis yang merinaikan sejuta kegalauan. Pucuk pinusan yang berjejer nun jauh di lereng bukit sana, seolah memendarkan nyala hati yang demikian biru.

Di sini, spektrum imajinasi kita akan terpompa untuk menorehkan penggal-penggal riwayat yang sempat terpatri dalam hati. Tempat paling kondusif untuk menghabiskan long wikend bersama sahabat-sahabat. Setidaknya, itulah yang mengilhami sahabat-sahabat Angkatan 2006 PMII Komisariat Tarbiyah Cabang Surabaya Selatan untuk mengadakan Pelatihan Term of Reference (ToR) dengan tema “Memupuk Intelektualitas, Merajut Soliditas, Demi Terwujudnya Kader Berkualitas, Profesional, dan Militan” yang dikemas dengan rihlah ilmiah di Camping Ground, Area Bumi Perkemahan Wisata Nasional Bromo-Tengger-Semeru, Probolinggo 16-18 Mei beberap…

Plato dan Gurunya

Saya suka banget deh sama cerita Plato ini, isinya tentang cinta dan perkawinan. Mungkin dah pada tau juga kali yah dengan ceritanya, tapi ga da salahnya kali ya kalo saya sharing, hehe…Gini ceritanya…

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Eh, Guru cinta itu apa siyy? Bagaimana saya bisa menemukannya?

Gurunya menjawab, “Hmmm, begini deh…lihatlah ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta” Lalu Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, “Loh kok?? Mengapa kamu tidak membawa satu ranting pun?”

Plato menjawab, “Habisnya…aku kan hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik), sebenarnya sih tadi aku udah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi…

Mencari Diri pada Sepotong Hati

Dulu, saya sering berfikir bahwa menjadi orang yang benar-benar jadi orang teramat mudah. Hari berganti hari, sementara apa yang kucari tak kunjung hadir. Lantas, ada semacam skeptisisme yang tiba-tiba menggelayut pedih paa liang-liang diri. Ah, saya lagi-lagi berfikir, bahwa sebenarnya kita tidak pernah benar-benar mencari-cari.

Maka, sebelum nujuman burung gagak yang kemudian menerka nasib buruk untukku datang menjemput, saya pergi berlari, meninggalkan sepercik matahari. Tapi, lagi-lagi saya berfikir, kita tidak pernah benar-benar pergi. Kita hanyalah memindah-mindah titik, tapi tidak benar-benar memilih nasib. Ah, persetan dengan nasib! Nasib hanyalah pseudo hidup yang terangkai seperti jaring laba-laba di sudut dunia.



Tapi, bukankah setiap kita punya nasib? Dan, bukankah setiap nasib memiliki dunianya masing-masing? Saya jadi teringat film The Last Samurai dalam TRANS TV Box Office. Ketika itu sang panglima perang sedang berada di tengah kepungan musuh. Hanya tinggal berdua denga…

Hantu Itu Bernama Cinta Sejati

Perempuan datang atas nama cinta.
Bunda pergi karena cinta.
Digenangi air racun jingga dalam wajahmu.
Seperti bulan lelap tidur di hatimu.
Yang berdinding kelam dan kedinginan.
Ada apa dengannya? Meninggalkan hati untuk dicaci.
Lalu sekali ini aku lihat kaca surga dari mata seorang hawa.
Ada apa dengan Cinta? Tapi aku pasti akan kembali. Dalam satu purnama.
Untuk mempertanyakan kembali cintanya. Bukan untuknya... Bukan untuk siapa...
Tapi untukku. Karena aku ingin kamu... Itu saja...!
(Rangga dalam “Ada Apa Dengan Cinta”)

Berbicara cinta, saya jadi teringat apa yang pernah ditulis oleh teman saya yang sekarang sedang menempuh program magisternya di salah satu Universitas di Malaysia. Cinta, barangkali memang tak akan pernah berhenti untuk terus dibicarakan. Ada teman saya yang sangat memuja-muja cinta, ada yang sangat antipati terhadapnya lantaran cintanya pernah ditolak. Well, cinta masih menyisakan bertriliun-triliun tanda tanya.

It’s oke! Kita sepakati saja bahwa cinta memang unik, kadang …

Tentangku Tentang Kegelisahanku

20 Oktober 2008
01:39


Jarum jam masih menuju ke titik nol ketika aku harus mengatakan dengan sejujur-jujurnya, bahwa pada hakikatnya, jiwaku teramat kosong. Sama seperti angka nol itu. Entah, aku takm begitu yakin bahwa aku benar-benar ada. Tapi, bukankah segala sesuatu selalu bermula dari nol, kosong? Kosong yang di dalamnya mengendap jibunan makna yang seringkali tak terkuak. Di sini, malam kian larut dan bertambah pekat. Tapi, bukankah dari pekat dan gelap seseorang mampu melihat dengan jernih fragmen suasana yang dilihat?

Dari balik gelap, kegelisahan yang meredam jiwa adalah cita. Dari balik sunyi, kekalutan yang menggelayut raga adalah mimpi. Tapi, untuk apa dan mengapa harus mimpi? Ya, mimpi seburuk apapun tetaplah mimpi. Mimpi yang kadang membuatku menggigil kedinginan dan bercucuran keringat. Ah, kenapa harus takut bermimpi? Bukankah hari tidak selamanya malam...

Maka, pada detik ini ku gelayutkan denyar-denyar nafasku pada reriak kata-kata, pada tiap jengkal kalimat yang seseka…