Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2017

Awalnya Adalah Membaca

Awalnya adalah membaca. Ya, membaca. Pekerjaan memelototi huruf demi huruf ini sudah menghantui imajiku sejak kecil. Ibuku yang seorang pedagang kecil “rumahan”, di sela-sela jeda kerjanya, masih sempat membaca novel silat semacam Wiro Sableng dan roman-roman Indonesia lainnya. Ketika beberapa tahun kemudian aku mulai rakus melahap novel-novel fiksi Islami dan majalah Annida, Ibu ternyata masih juga menyempatkan membacanya. Aku masih ingat bagaimana Ibu dengan antusias mencerna Novel Trilogi Pada-Mu Aku Bersimpuh karya Gola Gong yang kubawa dari pondok.

Sambil duduk santai, bahkan kadang berselonjor dia membolak-balik halaman demi halaman sembari menunggu tetangga datang membeli dagangannya. Jeda rutinitas yang menyenangkan. Begitu mungkin pikirnya. Dan kelak aku sadar, Ibu yang cuma lulusan SD itu, bukanlah orang yang gemar membaca, melainkan hanya mengisi waktu luangnya saja. Membaca bukan menjadi kebutuhan, melainkan sekedar pengganjal kekosongan.

Jika Ibu adalah penikmat novel …

Euforia Haji Berkali-kali

SyahwatVirtual -Musim haji, bagi saya, selalu memberikan nuansa dan makna yang beda, terutama bila ditilik dari perspektif antropologi sosial. Ada banyak euforia yang menyeruak, mulai dari syukuran haji, huru-hara konvoi haji, dan yang lebih menarik tentu pada pelaksanaan haji itu sendiri, yakni haji berkali-kali. Fenomena yang terakhir ini -- oleh sebagian pemerhati kajian sosial keagamaan, seringkali dijadikan barometer untuk membaca peta kecenderungan masyarakat muslim Indonesia dalam menghayati ritual agamanya.

Di mata masayarakat, haji memang merupakan ibadah yang istimewa, karena selain membutuhkan kekuatan fisik, ia juga mensyaratkan kemampuan logistik. Al-Qur'an memberikan batasanistithâ’ah (kemampuan) sebagai dasar taklif untuk merealisasikan ibadah yang memuat romantisme historisitas Nabi Ibrahim ini. Tak ada ceritanya orang miskin tiba-tiba naik haji, kecuali karena mendapatkan undian atau uluran tangan seorang dermawan, misalnya. Maka dalam konteks ini, haji tak hanya…

Menyukai Selalu Tidak Menyenangkan

Suatu ketika seorang teman mengirim message persis seperti redaksi di atas. Menyukai selalu tidak ‎menyenangkan. Saya sedikit terkejut, lalu tertawa membacanya. Sudah hampir dua tahun ‎saya berkomunikasi dengannya, tapi baru kali ini pesannya agak filosofis. Lumayan juga, hasil semedi ‎hampir seperempat abad, balas saya kemudian. Dan saya tambah terkejut setelah mendapatkan balasan darinya. ‎‎“Selalu sesederhana ini”. Hanya itu balasannya. Simpel, padat, tapi juga menohok!‎
Betulkah menyukai selalu tidak menyenangkan? Atau kita moderatkan saja, betulkah menyukai tidak ‎selalu menyenangkan? Ketika membaca sms teman di atas, ingatan saya langsung tertuju pada tesis Kho ‎Ping Hoo, sang Maestro Cerita Silat Indonesia, bahwa kebahagiaan adalah ketika kita tidak menjatuhkan ‎pilihan. Bisakah kita hidup tanpa pilihan? Tentu kita tak perlu menjawab pertanyaan itu sebagimana kita ‎tidak wajib mengikuti defenisi tersebut. ‎
Mengapa bisa demikian? Karena apapun jawaban anda tentang pertanyaan…

Fenomena Peterporn dan Falsafah Waktu*)

Oleh: Bahauddin Amyasi

Jika Edmund Husserl, pendiri filsafat fenomenologi itu mengatakan bahwa esensi waktu adalah kesadaran dan esensi kesadaran adalah waktu, maka sesungguhnya kita tak pernah benar-benar memiliki kekuatan kolektif
untuk selalu belajar pada waktu, apalagi untuk membangun ingatan kita tentang masa lalu. Memori kita seolah hidup dalam ritme tik-tok arloji yang selalu bergerak ke depan, tak pernah berputar arah. Hidup ala arloji mengandaikan apa yang ditinggalkan memang tak dilupakan, tapi sengaja ditinggalkan. Masa lalu masih ada, namun tak penting untuk selalu dibaca. Karena kita hidup dengan “pola pikir” arloji, maka kita kerap tak mampu menyimpan memori.

Ideologi arloji, hari-hari ini bisa kita temukan konteks pemaknaannya dalam kasus Ariel-Luna Maya- Cut Tari. Gambar pornoaksi mereka kini jadi menu hangat berbagai media, baik cetak maupun online. Di blog-blog, situs jejaring sosial, hampir semuanya membicarakan aksi heboh mereka yang meruncing menjadi objek diskusi, …

Perempuan yang Kekalkan Hujan

kau yang kekalkan hujan 
di matamu
sesekali melumuriku dengan hening yang gigil
tapi bukankah tandus jantunggku selalu 
merindukan gerimis, 
atau juga tangis?
/1/
cantik, masih ingat engkau tentang percakapan puisi kita? hari ini, membaca lagi nubuat hari-harimu, mengingatkan kembali pada kegagahanku dulu; waktu dimana tuhan telah mengalirkan seluruh kekuatannya pada rapal mantraku, hingga demikian lugas kuungkapkan betapa aku kangen kamu, sayang kamu, dan ingin –suatu waktu– menikmati malam dan hujan dalam rerimbun matamu.

/2/
aku takjub dengan seluruh kegaiban musim, cantik, karena dari rahimnya rindu terlahir sebagai kemarau. dan dadaku adalah kerontang yang pasti merindukan hujan bukan? tidak cantik, engkaulah hujan yang tak kenal musim. aku hanya rindu pecahan nafasmu menjadi arus dalam darahku, sebagai detak dalam jantungku. aku butuh hujan di matamu, lebih dari kering kemarau di mana pun..

/3/
tapi kita hanya bisa bersisihan, sayang. saling pandang. kita i'tikafkan saja rindu pada …

Karena Hidup Adalah Membunuh!

"Sejak kecil aku paham bahwa hidup itu perlombaan. Jika kau tak cekatan, orang lain akan merebut peluang. Untuk lahir saja, kita harus mengalahkan lebih dari 300 juta sperma lain..."




Suatu hari, dengan langkah tegap dan sedikit arogan Rektor ICE (Imperial College of Engineering) berjalan menuju halaman kampus prestius itu. "Ini apa?" Tanyanya sembari memandang seluruh mahasiswa dengan nada menggelegar.

"Sarang, Pak!"

"Sarang siapa?"

"Sarang burung Cuckoo.."

Sang Rektor berhenti sejenak, menarik nafas.

"Burung Cuckoo tidak pernah membuat sarangnya sendiri. Mereka menaruh telur di sarang burung lain. Dan ketika anak mereka menetas...," Virus berhenti lagi, seolah sengaja menghentikan ucapannya. Lalu memandang ke seluruh mahasiswa. "Apa yang mereka lakukan pertama kali?", tanyanya kemudian, mantap.

"Mereka menendang telur lain dari sarang. Pecah! Kompetisi berakhir..."
Mahasiswa terkejut, terheny…

Doa Sunyi Seorang Ibu

Kalau aku merantau/ Lalu datang musim kemarau/ Sumur-sumur kering/ Dedaunan pun gugur bersama reranting/ Hanya mata air air matamu ibu/ Yang tetap lancar mengalir
-- dalam puisi Ibu, D. Zawawi Imron --
Hampir setiap kali saya berjumpa dengan D.Zawawi Imron, si Celurit Emas kelahiran Sumenep, Madura itu dalam banyak pertemuan, baik dalam forum kepenulisan, lokakarya maupun serasehan budaya, beliau selalu diminta peserta dan panitia untuk membacakan salah satu puisinya. Dan "anehnya", puisi yang dibacakan selalu sama, yakni berjudul IBU. Meski tak semagis penghayatan Mas Ivan Kavalera ketika membacakan puisi di program sastra SEMBILU RCA 102,5 FM Bulukumba, tapi sungguh puisi Ibu yang didemonstrasikan beliau benar-benar menggetarkan dinding kesadaran pendengarnya, paling tidak untuk saya sendiri sebagai peserta.

Tentu ada argumentasi tersendiri kenapa Ibu menjadi bagian paling penting dari sisi kepenyairan seorang Zawawi, pikir saya waktu itu. Diksi Ibu seolah menjadi spirit pa…

Belajar pada Psikologi Dusta

Ada hal menarik yang barangkali patut kita renungkan dari sisi esoteris kehidupan manusia, yakni psikologi dusta. Dalam diskursus psikoanalisa Sigmund Frued, seorang filsuf Jerman teremuka, manusia memang memiliki alter ego, yang divisualisasikan dengan ”wajah bertopeng” dan mampu berubah-rubah seperti Bunglon sesuai dengan konteks afiliasinya.



Lalu apa hubungan antara psikologi dusta dengan kontes pre-review yang diselenggarakan oleh Clara Canceriana, penulis produktif yang sebagian karyanya dituangkan dalam blognya? Baiklah. Mari sejenak kita hayati dengan penuh kejujuran, dengan fokus pikiran pada topik kita kali ini dengan menjawab satu pertanyaan yang kita ajukan untuk diri sendiri; apa yang menyebabkan kita suka (bahkan kalau membaca Kho Ping Hoo, saya kuat semalam suntuk!) membaca novel, cerpen, atau tulisan dengan bentuk fiksi yang memang nyata-nyata fiktif alias racikan imajinasi belaka?


Barangkali karya sastra akan tetap dibaca masyarakat , betapapun itu bukanlah hal yang nyat…

Jangan Panggil Aku Neng!

Kusampaikan permohonan maafku kepadamu, karena barangkali kau tak berkenan bila aku tuliskan percik perjalanan hidupmu. Kisah dengan nalar dan narasi yang mungkin bagi sebagain orang tak mudah dipahami, atau lalu memandangnya dengan penuh ironi. Tapi bagiku, dan mungkin juga bagimu, betapapun pahitnya sebuah perjalanan, ia tetap tak akan pernah tergantikan. Maka harusnya kau tak perlu menyesal untuk selalu mengenang tiap derap dan jengkalnya dengan penuh penghayatan.
Atau biarlah kita berpikir bahwa segalanya telah ada pada Qada’ yang berjanji, dan biarlah Qadar yang menepati. Sebuah janji sunyi, pada kerikil air matamu yang pecah berkali-kali...

Dari Sahabatmu...

# # #

Menjadi sahabatnya, sungguh tak pernah terlintas sedikitpun di kepalaku. Mengenalnya saja bagaikan membentur dinding kemustahilan. Bagaimana mungkin aku yang masih lugu dan culun berusaha untuk sedikit tahu tentang dirinya yang bintang. Ya, sebut saja dia Bintang, yang meski hanya pendar, tapi ia begitu menyejukkan. Be…

Cerita Tengtang Rakyat yang Suka Bertanya

"Karya yang bagus adalah karya yang menggema di hati manusia. Jika ingin membuat karya yang baik, maka buatlah karya yang menggema bagi manusia lainnya..."

Petikan kalimat di atas adalah diktum sastrawan dan Guru Besar Emiritus UNESA (Universitas Negeri Surabaya), Prof. Budi Darma, ketika menjawab pertanyaan saya tentang patokan nilai karya sastra yang baik. Pertanyaan itu saya lontarkan pada acara Diskusi dan Launching "Kumpulan Cerita Pendek; Cerita Tentang Rakyat yang Suka Bertanya", Selasa (18/05/10) kemarin di ruang sidang Rektorat IAIN Sunan Ampel Surabaya. Sebelumnya, saat sesi penyampaian materi, beliau memaparkan secara detail bagaimana sebuah proses kreatifitas kepenulisan sejatinya telah mampu menjadi tolak ukur kebesaran seseorang. "Kebesaran seseorang dapat dilihat dari karya tulisnya. Jika kita ingin jadi orang besar, maka menulislah", ujarnya kepada peserta, dengan semangat yang berkobar.

Acara yang diselenggarakan oleh DEMOS (Lembaga Kaj…

Seminar Internasional Pendidikan Islam

Gedung GEMA – Selasa, 04 Mei 2010
Laporan : Bahauddin Amyasi (Sekretaris Senat Mahasiswa Faklutas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya 2009-2010)

Pagi itu udara terlihat sejuk. Jam masih berada di titik tujuh lewat beberapa menit. Sebagian mahasiswa memakai jas almamater dengan Co-Card bertuliskan panitia bergelantungan di dadanya, terlihat sibuk mengurusi akomodasi yang perlu dipersiapkan.

Deretan kursi hampir sesak memenuhi ruangan dalam GEMA, gedung yang berada tepat di samping gedung akademik Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Ampel ini. Di depan pintu gerbang terpampang jelas banner besar dengan logo Djarum bertuliskan : SEMINAR INTERNASIONAL dan bebarapa anak kalimat yang tertera di bawahnya.

Itulah prosesi awal acara Seminar Internasional yang sengaja diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Tarbiyah IAIN Supel, bertempat di GEMA, Selasa, 04 Mei 2010.  Secara konseptual-epistemologis, seminar internasional dengan tema “Reformulasi Paradigma Pendidikan Islam Menuju Pe…

Penjara Fanatisme: Sebuah Catatan Pergerakan

Villa Kartini, Pacet, Mojokereto: 23 April 2010

untuk sahabat-sahabati PMII Surabaya Selatan

akan kubawakan kelak selaksa kisah untukmu, sahabatku, tentang lembar-lembar sejarah yang tak kunjung usai kita gubah. mestinya harus ada epilog yang barangkali akan kita kenang meski kerinduan primordial yang kita bangun tak pernah usang. kita selalu bicara tentang nurani, tapi sungguh kita tak pernah benar-benar paham makna tragedi.



berkali-kali kukatakan bahwa cerita kita hanyalah lorong pengap dengan dinding-dinding labirin yang kokoh, hingga setiap suara yang terpantul hanyalah dengung yang bisu, dan tentu juga semu. tapi kau terlanjur percaya pada keabadian, meski dengan nalar kerinduan yang membingungkan.

ah, aku tak percaya bahwa kau bisa berlaku sepengecut itu! kau terlalu bangga dengan defenisi yang kau ciptakan sendiri, meski tanpa premis dan distingsi yang jujur. silogisme yang kita rangkai hanyalah pergumulan euforia dengan kekerdilan paling nista. aku tak pecaya, bahwa kita telah b…

Saat Kita Perlu Meneteskan Air Mata

: cerita akhir tentang bintang

/1/
akhirnya perjalanan kita sampai juga di muara, saat gerimis tiba-tiba mengecup rambutmu yang basah dengan rindu yang berjelaga. kubayangkan kita adalah burung camar yang masih belajar terbang, lalu sesekali mendoakan pertemuan di ujung pantai. tapi deru gelombang terlanjur mengayuh sampanmu ke tengah samudera, meninggalkan gelora mimpi yang tersisa.


/2/
tapi setiap peristiwa selalu kusangsikan dengan koreografi pengembaraan adam. sebab tak ada yang perlu diragukan untuk memilih bilah rusuk yang hilang, meski lalu kau temukan di kantor pegadaian, apartemen mewah atau swalayan. maka aku tak lagi menjemputmu, meski telah lama kunantikan, bahkan sejak engkau belum paham benar makna pertemuan. dan jarak, pada akhirnya kuhancurkan dalam hening kerinduan, yang mengerat jantungku perlahan-lahan...

/3/
sejak pertama kali kupuja bintang, ku dengar kau bergumam; "aku telah lama mati suri, jauh sebelum aku tak sanggup menggigit nadiku sendiri". aku terseda…

Rihlah Ubudiyah: Catatan Perjalanan

Dulu, dulu sekali saya pernah membaca sebuah opini di Jawa Pos yang mengangkat persolan sengketa Ligitan dan Sipadan. Tanggal, bulan dan tahunnya saya lupa, yang jelas sudah hampir sepuluh tahun yang lalu. Saya hanya ingat judul opini itu, yakni Revitalisasi Wisata dalam Agama. Waktu itu saya masih di pondok, masa di mana ghirah membaca begitu menyala-nyala. Mulai dari majalah Annida, Sabili, Hidayatullah sampai koran seperti Jawa Pos selalu saya nikmati meski membacanya harus bergantian dan berdri di depan Mading yang sesak oleh para santri, terlebih pada hari Minggu.


Narasi opini yang hendak dibangun penulis itu, seingat saya, bukan pada persoalan analisa sistemik dalam memperbincangkan bagaimana sengketa kedua pulau yang katanya indah itu mampu terselesaikan dari jalur yang mulai meruncing menjadi mudah, tetapi lebih pada bagiamana nalar agama memandang objek wisata (Sipadan dan Ligitan) sebagai sebuah bentuk penghayatan nilai-nilai kauniyyah-ubudiyyah; bahwa tempat wisata tidak ser…