Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2017

Libidosophy dan Berahi-berahi Spiritual

Dalam bukunya yang bertitel Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan, Yasraf Amir Piliang coba mengurai kelindan antara kapitalisme, tubuh dan pornografi, dengan satu tarikan istilah yang ia sebut "libidosophy". Bagi saya, istilah ini sangat menggelitik tapi sekaligus menohok dengan telak, tepat ke titik akal sehat. Bagaimana mungkin diksi sophy, yang bermakna kebijaksanaan, bisa bersanding manis dengan libido: satu kata yang acap berdekatan dengan dunia esek-esek dan sering dikonotasikan dengan prilaku amoral. Dengan kata lain, istilah itu seolah kontradiktif sekaligus ambigu. Tapi, apa yang tidak membingungkan di jagat informasi ini? Tulisan singkat ini tidak akan membahas diskursus kapitalisme dengan seluruh dosa turunannya, apalagi kaitannya dengan tubuh dan pornografi yang sungguh seksi sekali. Catatan pengantar ini hanya berusaha melakukan otokritik terhadap ikhtiar perbincangan mengenai koleksi pengetahuan yang over load, tapi sangat nihil dalam …

Dunia Fesbuker, Seberapa Pentingkah?

Seberapa berhargakah dunia pesbukmu, hingga baru bangun tidur pun, sebelum kau sikat gigi, respon alam bawah sadarmu mengharuskanmu terkoneksi dengannya?

Satu persatu, kau lalu mencerna status-status sahabatmu. Sambil tertawa, kau lalu mengomentarinya, entah itu serius atau malah guuonan belaka. Lalu, karena bosan dengan display language pesbuknya yang dipakai orang kapir, temanmu yang lagi menggandrungi matakuliah linguistik menyarankan Mark Zuckerberg agar memasukkan bahasa Jawa dan Madura sebagai alternatif pilihan bahasanya. Sungguh, itu ide tergila sepanjang masa dan tiada duanya.

Di lain waktu, kau bertemu dengan karakter cinta sahabatmu yang ganjil tapi selalu membuatmu terharu. Melalui status-statusnya, ia berusaha mengabadikan kesetiaan cintanya dunia-akhirat, melampaui batas ruang-waktu, selamanya, atau mungkin lebih dari selamanya. Mengirimi istrinya kado puisi terindah yang pernah tercipta di dunia, padahal istrinya sudah bahagia di "alam sana". Bukankah itu buk…

Setelah Lebih 9 Tahun: Reuni Perdana Alumni MA Bata-Bata 2005

Saya menulis catatan ini tepat pada saat rembulan jelang purnama. Bagaimana rasanya jika perjumpaan setelah lebih dari 9 tahun membuat dadamu berdentum dg letupan rasa haru dan bangga?

Terbangun tengah malam, saya lalu berpikir untuk mengabadikan momentum yg jarang saya alami, tepat pada dini hari menjelang reuni perdana ini. Kami berpisah satu sama lain setelah lulus dari pondok pasca tugas pengabdian di tempat masing-masing. Pertemuan ini bagi kami, paling tidak menurut teori saya pribadi, adalah sesuatu yang sakral sekali. Satu perjumpaan primordial, pertemuan agung, di mana Tuhan akan mencahayai kemesraan kami dengan keberkahan yang abadi dan sejati.

Saya bermalam di rumah seorang teman bernama Syafi'uddin, yang sejak dari pondok dulu sampai sekarang sering dipanggil Mat Gerra karena cara dia berjalan mirip seperti tentara. Lucu sekali tatkala mengingatnya. Ditemani Abdul Aziz si jebolan Al Azhar University Mesir yg juga Hafidh al Quran, Syafi'i Bang Jack si aktivis ulung…

Terapi Diri dengan Blogging Sehat

Saya sering mengungkapkan secara gamblang, entah itu di laman fesbuk dan di berbagai forum kajian, bahwa ngeblog itu sesungguhnya adalah belajar menyuembuhkan diri, terapi diri. Terapi yang saya maksud di sini adalah proses untuk terus-menerus menemukan kesejatian diri, kedirian diri. Mengapa harus dengan blogging? Alur berpikirnya begini.

Kita mungkin bakal belepotan untuk mengikuti arus perkembangan teknologi yang tak kunjung berhenti. Kelahiran generasi hasil pencangkokan teknologi terus digalakkan meski kita belum paham semua itu dibuat untuk apa, untuk kepentingan siapa, seberapa besar manfaat dan merusaknya, dan yang bisa kita lakukan adalah terus bertanya. Bertanya mengandaikan satu prosedur ilmu, dan bangunan ilmu bakal menguat dengan terus bertanya. Ada dialektika di sana.

Saya jadi teringat pernyataan menarik Manuel Castell dalam The Rise of the Network Society, bahwa "masyarakat kita semakin terstruktur seputar oposisi dwi-kutub, yaitu kutub jaringan dan kutub diri, t…

Neo Mahasiswa dan Generasi Android

Jika hari ini kita melakukan pencarian di Google dengan keyword “mahasiswa kupu-kupu”, maka ada sekitar 1.100.000 laman yang muncul dalam hitungan 0.39 detik. Angka itu bisa fluktuatif, naik-turun, sesuai dengan selera para penulis, pemerhati, aktivis, akademisi, atau mungkin juga hasil utak-atik-gathuk blogger iseng yang tergila-gila pada kategori. Ada apa gerangan dengan mahasiswa kupu-kupu?

Sebuah tipologi lahir dari hasrat untuk mengelompokkan berbagai karakter dan dimensi manusia menjadi sesuatu yang seolah-olah bisa diukur, digolong-golongkan, dimirip-miripkan, dipas-paskan. Muncullah bermacam teori untuk mengkaji dinamika kedinamisan manusia dari berbagai perspektif. Ada yang berangkat dari kerangka fisikal yang dikenal dengan fisiognomi, ada yang berpijak dari potret bagaimana seseorang tidur, cara ia berjalan, cara ia makan dan lain sebagainya. Tapi validkah ukuran-ukuran itu? Bukan itu poinnya.

Awalnya saya menduga mahasiswa kupu-kupu sebagai tema yang hendak diangkat di bul…

Berkah Setumpuk Jenggot

Engkau pasti sulit menemukan seseorang semacam dia. Da'i paling nyentrik se-Indonesia. Ia pernah jadi khotib sidang Jum'at tanpa duduk di antara kedua sesi khotbahnya. Jika engkau suka mengelompokkan karakter seseorang lewat fisiognomi, kesulitan itu akan tambah membuatmu kebingungan: wajahnya bulat penuh dan "berwibawa", tubuhnya tegap seperti Mahapatih Gajah Mada. Tapi jika keluwesan emosinya melanda, ia bisa sentimentil melebihi gadis perawan saja. Hatinya benar-benar peka. Dan sekarang, berkah keluwesannya, ia benar-benar menjadi Mahapatih bagi komunitasnya. 
Dia sangat super serius dengan profesinya, tapi lebih sangat amat super-duper serius lagi tentang puisi-puisinya. Tiap malam ia menyelipkan sajak-sajak doa untuk istrinya. Kata dia, itu isyarat kekekalan cinta. Maka, setelah lama menduda, ia sangat selektif memilih perempuan untuk jadi pendamping sisa-sisa hidupnya.
Dari saking selektifnya, ia bahkan menyeleksi status-status dan tag-tag dari siapa saja yang bo…

Padhangmbulan dan Orbitasi Internal

Saya selalu takjub sekaligus iri melihat siapapun yang mau mengubah kondisi hidupnya; keluarganya, institusinya, bangsa dan negaranya, dimulai dari dirinya sendiri. Meradikalkan kemandirian dirinya sendiri sebagai titik ordinat untuk eksplorasi potensi dalam bentangan sejarahnya. Jika titik ordinat itu sudah solid, menancap kuat pada eksistensi diri yang paling inti, maka akan tercipta rotasi sinergis dan ritmis, yang pada gilirannya mampu melahirkan simpul-simpul yang kokoh dan mampu berkonstelasi secara aktif dalam mentransfer energi positif dengan lingkungan sekitarnya. Itu yang sama maksud dengan orbitasi internal. Dan, saya memulainya dari Padhangmbulan.

Padhangmbulan adalah forum pencerahan yang digelar setiap malam purnama, ketika sinar rembulan terang benderang, saat sasadara manjer kawuriyan. Barangkali ikhtiar itu adalah perlambang, agar cahaya pengetahuan dan kebenaran mudah merasuk dan melebur ke dalam hati para pelakunya, lalu mampu melihat dengan jernih segala fenomena …

Free Wi-Fi

Mengapa kapitalisme yang menang? Seorang teman lalu menjawab: karena ia membidik tepat sasaran.

Diksi “tepat sasaran” itu tiba-tiba muncul kembali seperti hantu yang menakutkan ketika tanpa sengaja, di dalam lift sebuah hotel menuju lantai 7, saya melihat iklan menempel di dindingnya: “Klik dan nikmati secangkir KOPI panas sambil update informasi terbaru hanya di Lobby Lounge @ Rp. 15.000,-”. Kapasitas saya sebagai peserta workshop review kurikulum yang terbiasa hidup di kos Surabaya yang panas, dengan modem yang luar biasa lemot, terlonjak ketika melihat sebuah logo di pojok kiri atas iklan itu: Free Wi-Fi. Terbersit dalam pikiran: inikah jawaban dari teman itu?
Menyusuri koridor hotel, selepas keluar dari lift menuju kamar nomor 204, pikiran saya masih berkutat dalam pusaran iklan yang merayu itu. Hotel “berbintang” ini menjulang tinggi tepat di puncak Tretes. Bergaya arsitektur Eropa abad pertengahan, sedikit angkuh, dengan udara sejuk dan perbukitan yang memukau, melebur dengan de…

Setelah 13 Tahun

Rabu, 04 Juli 2012 bertepatan dengan Malam Nishfu Sya'ban 1434 H.
Bayangkan apa yang kau rasakan untuk pertama kalinya setelah kau meninggalkan sesuatu itu selama lebih 13 tahun. Mungkin kau telah melupakan banyak hal, termasuk yang remeh-temeh, tradisi kampung kecil tempat dimana kau pernah menjalani masa kanak-kanak. Kau sudah menggeluti dunia baru, tradisi anyar yang barangkali jauh lebih "elegan" ketimbang adat di kampung kelahiranmu. Atau kau menyimpan memori masa kanakmu rapat-rapat di ceruk jantungmu. Itu betul-betul pilihan asasimu. 
13 tahun bukanlah angka yang singkat. Waktu terasa melesap begitu cepat, menyerap apa saja yang bisa dilahap. Tapi keajegan akan selalu ada, tak lekang masa, tak rapuh karena tua, meski globalisasi selalu menggerogoti banyak hal, dan menyampingkan sesuatu yang berbau renta. Untuk pertama kalinya, aku merasakan pengalaman magis itu setelah belasan tahun mengabaikannya.
Berjalan malam hari di jalan setepak di tengah sawah,  saat bulan…

Kiri yang Berdikari

Untuk urusan sekecil apapun, orang tua sering mengingatkan: gunakan tangan kananmu ketika makan, dahulukan kaki kananmu saat masuk masjid. Jangan yang kiri, itu  pamali. Jhube’, kata orang Madura. Ketika seorang anak kecil menerima pemberian orang lain dengan tangan kirinya, si orang tua menegurnya, mengajarinya untuk lebih sopan. “Ayo pakai tangan yang bagus”. Maksudnya, tangan kanan.
Agama mungkin mengajarkan demikian. Ada istilah al-tayāmun, yang dianjurkan untuk dipraktikkan dalam ritual agama, bahkan hampir dalam segala hal. Kāna rasūlullah yuhibbu al-tāyamuna fȋ tana’ulihi wa tarajjulihi wa thahūrih wa fȋ sya’nihi kullihi, kata sebuah hadits Muttafaq ‘alaih. Kanan seolah superior, sementara kiri inferior. Maka Rasulullah pun suka memulai sesuatu dari yang kanan, bahkan dalam memakai sendal, bersisir, bersuci, sebagaimana hadits di atas. Ada apa dengan kiri, kenapa ia seolah hendak dijauhi?

Kiri barangkali sesuatu yang netral, letak arah, dipakai hanya untuk membedakan dengan yan…