Berhenti Sejenak; Sebuah Refleksi atas Totalitas Diri


"Semua Ambisi itu sah kecuali yang mencapainya dengan cara melangar hak–hak dan kepercayaan orang lain".
-Kata orang bijak.


Adalah sesuatu yang wajar jika seseorang berusaha untuk menggapai apa yang dia inginkan. Sangat manusiawi jika waktu dan pikirannya tercurahkan demi mencapai cita dan harapan. Karenanya, banyak di antara mereka yang tidak mempunyai waktu lagi untuk sekedar menengok ke belakang. Melihat hari-hari yang telah berlalu. Memandang rentetan setiap jengkal peristiwa yang pernah ia alami.

Melihat kembali apa yang telah berlalu dalam diri kita meniscayakan dualisme faktual dengan masing-masing konsekuensinya. Entah itu masa lalu yang indah atau masa lalu yang suram. Keduanya ibarat pisau bermata ganda, seperti dua sisi mata uang, tergantung dari mana kita membidiknya. Melihat keberhasilan dan prestasi yang telah tertoreh, bisa melecutkan kembali semangat kita untuk bertahan atau lebih baik lagi. Namun di waktu yang sama, bisa saja dengan mengenang kejayaan menjadikan seseorang terlena dan merasa puas. Dan akhirnya ia hanya diam di tempat, tanpa mau beranjak dari "dunia keterlenaanya".

Begitu juga dengan sketsa masa lalu yang suram, terkadang melahirkan orang yang vakum, statis, tidak menegnal potensi dan segan mengeksplorasi eksistensinya. Ia hanya akan menyesali nasib demi nasib yang menerpanya. Tetapi bisa jadi, kegagalan dan keterjatuhan masa lalu malah menjadi titik tolak yang mampu membawa dia ke arah yang lebih baik. Sekali lagi, semuanya ada di tangan kita. Dan kitalah yang berhak menentukan pilihannya.

Filosofi "Berhenti sejenak" untuk melihat dan menilai diri sendiri mengharuskan seseorang berada pada angle dan perspektif yang tepat. Berpijak pada frame yang akurat. Ibarat memandang sebuah lukisan, jangan terlalu dekat melihatnya, karena keindahan dan harmoni warna yang tercipta tidak akan bisa dinikmati. Begitu pun dengan melihat diri sendiri. Selama seseorang memposisikan dirinya sebagai "orang dalam" maka gambaran tentang diri yang sesungguhnya pun akan sulit untuk terlihat jujur dan apa adanya. Ada kekeliruan yang tersembunyi maupun potensi yang tidak disadari.

Berpijak dari logika sederhana di atas, seseorang perlu menarik diri sejenak, melihat dari luar apa yang sedang terjadi dengan dirinya. Dengan melakukan reposisi diri sebagai "orang luar", ia akan lebih jernih dan arif dalam menilai totalitas kediriannya. Ia jadikan diri sendiri sebagai obyek untuk dikritik. Maka muncullah solusi atas problem yang menimpanya. Bukankah setiap kita punya potensi untuk menyelesaikan masalah kita sendiri?

Lalu mengapa harus berhenti sejenak dan mengapa harus melihat diri dari luar? Sebab aktivitas seseorang dalam beraktualisasi tidak jarang membuat dia terlena. Aktualisasi dalam konteks ini adalah totalitas kehidupan yang mencakup semuanya. Bukan sekedar kesibukan dalam arti sempit yang berarti banyak tugas dan aktif dalam kehidupan sosial di mana dia berafiliasi. Orang yang sibuk dengan sebuah urusan, baik karena faktor tuntutan ataupun kecenderungan dari dalam, sejatinya dia sedang terjun dan berenang dalam dunia yang sedang dia geluti. Konsentrasi dan pikiran yang sepenuhnya tercurahkan untuk menuai kesuksesan sering melenakannya. Dia tenggelam. Ya, dia sedang tenggelam dalam keterlenaannya.

Ibarat seorang pemain yang sedang terjun di arena, tentu akan sulit bagi dirinya untuk menilai bagus tidaknya permainan yang dia lakonkan. Di sinilah perlunya seseorang menarik dirinya dan mengambil posisi sebaga penonton. Untuk melihat diri sendiri, seseorang perlu keluar dari ruang kesibukan. Menyisihkan sedikit waktu untuk dirinya sendiri. "Khalli anta wa nafsak!" Begitu orang ARab pernah berkata. Karena bagaimana pun, kesadaran akan apa yang kita berbuat dan sudah sejauh mana kita melangkah, sejatinya akan menumbuhkan sikap waspada sehingga terkontrol dalam mengambil keputusan. Barangkali inilah maksud dari falsafah hidup, “Menceburlah, tetapi jangan tenggelam.” Akan tetapi, falsafah ini tidak menafikan all out dan bekerja dengan sepenuhnya, tetapi justru falsafah ini ibarat rem yang mampu mengontrol diri dan menjaga agar tidak hanyut dan tenggelam dengan aktivitasnya.

Diksi "mencebur" meniscayakan seseorang untuk tidak ragu-ragu dalam berbuat. Tidak plin-plan dan setengah-setengah dalam melangkah. Tetapi ia mengajarkan kita untuk mengerjakan sesuatu secara kâffah dan menekuninya secara maksimal, mencurahkan segala pikiran dan tenaga dalam bekerja dan berbuat. Sementara "jangan tenggelam" mengisyaratkan pentingnya sebuah control diri yang mampu mengarahkan aktivitas dan perbuatan tersebut secara benar dan tepat. Sebuah kata yang maknanya saya rasa tidak jauh dengan ruh "berkorbanlah, tapi jangan jadi korban." Begitu yang pernah saya baca di sebuah catatan motivasi, entah saya lupa pengarangnya dan apa judul bukunya.

Orang yang telah mencebur dan tenggelam, akan rentan untuk lupa segalanya. Dia cenderung menilai sesuatu secara global, sehingga lupa hal-hal kecil yang sebenarnya adalah pokok permasalahan. Menilai sebuah pekerjaan, semata-mata dari hasil yang diraih. Sehingga waktu baginya teramat mahal, segalanya harus cepat, target harus terlaksana. Dalam konteks ini, orang seringkali lupa, bahwa nilai hakiki sebenarnya bukan hanya hasil yang diraih, tetapi adalah akumulasi dari proses menuju hasil tersebut. Dalam sebuah pepatah, "Kesuksesan besar adalah akumulasi dari kesuksesan-kesuksesan kecil, dan kegagalan besar adalah akumulais dari kegagalan-kegagalan kecil".

Akhirnya saya ucapkan selamat mencari dan berefleksi.*)

*) Tulisan tak berarti di atas hanyalah hasil refleksi dari penggalan kalimat yang pernah didengungkan Ipung dalam ipung; Buku 2 Novel Motivasi Pembangkit Kepercayaan Diri, tulisan Prie GS, Republika, Oktober 2008; "Pada akhirnya seluruhnya adalah urusanku sendiri, walau seluruh manusia jagat raya ini mendampingiku."
Previous Post Next Post