ads

header ads

Euforia Haji Berkali-kali


SyahwatVirtual - Musim haji, bagi saya, selalu memberikan nuansa dan makna yang beda, terutama bila ditilik dari perspektif antropologi sosial. Ada banyak euforia yang menyeruak, mulai dari syukuran haji, huru-hara konvoi haji, dan yang lebih menarik tentu pada pelaksanaan haji itu sendiri, yakni haji berkali-kali. Fenomena yang terakhir ini -- oleh sebagian pemerhati kajian sosial keagamaan, seringkali dijadikan barometer untuk membaca peta kecenderungan masyarakat muslim Indonesia dalam menghayati ritual agamanya.

Di mata masayarakat, haji memang merupakan ibadah yang istimewa, karena selain membutuhkan kekuatan fisik, ia juga mensyaratkan kemampuan logistik. Al-Qur'an memberikan batasan istithâ’ah  (kemampuan) sebagai dasar taklif untuk merealisasikan ibadah yang memuat romantisme historisitas Nabi Ibrahim ini. Tak ada ceritanya orang miskin tiba-tiba naik haji, kecuali karena mendapatkan undian atau uluran tangan seorang dermawan, misalnya. Maka dalam konteks ini, haji tak hanya mengandung unsur ritual, tapi juga mematok harga sosial.

Sebagian kecil masayarakat Madura memiliki tardisi yang menggelitik. Tanpa aturan tertulis, mereka seolah sepakat bahwa siapa pun yang sudah menunaikan ibadah haji harus dilekati dengan atribut kehajiannya. Mulai dari kopiah puith yang dipakai sampai paggilan kebesarannya. Mereka akan sedikit "tersinggung" jika tidak dipanggil dengan sebutan Pak haji atau Bu haji. Karena haji itu mahal, kata mereka berargumen. haji butuh biaya yang besar. Jadi tidak heran bila kemudian poin kelima rukun Islam ini menjadi impian panjang banyak orang. Tak jarang kita mendengar seseorang memiliki cita-cita untuk memberangkatkan kedua orang tuanya ke tanah suci, seperti yang digambarkan dalam film Emak Ingin Naik Haji.

Dari Ibadah Formal hingga Gengsi Sosial
Sedikit deskrepsi di atas, sekali lagi, menunjukkan bahwa ibadah haji memiliki bergening position dan bahkan berada di atas standar kualifikasi perspektif masyarakat tentang strata sosial. Haji adalah citra sekaligus simbol. Semakin sering ia dicitrakan, maka simbol itu semakin kokoh. Itulah kemudian kenapa ada justifiksi bahwa umat Islam Indonesia lebih greget mengerjakan ibadah haji ketimbang berzakat. Padahal, secara hierarkis, perilaku berzakat seharusnya lebih diutamakan ketimbang berhaji, karena ia lebih bernuansa horizontal dan berkaitan langsung dengan kebutuhan masayarakat, sementara haji lebih menitikberatkan pada dimensi vertikal antara sang pelaku dengan Sang Khaliq.

Asumsi di atas tidak sepenuhnya salah. Lihatlah, hampir setiap tahun calon jamaah haji selalu antri, sementara di sisi lain, kemiskinan demikian mengiris hati. Kita juga dapat membayangkan sebagian di antara kita yang memiliki agenda haji tiap tahun. Haji dilakukan berkali-kali. Dan parahnya lagi, biaya yang digunakan adalah hasil korupsi. Na'udzubillah! Tujuannya tentu saja untuk kepentingan diri sendiri. Tak pernah ada ceritanya bahwa haji adalah untuk kepentingan masyarakat, misalnya agar masyarakat makmur sentosa aman sejahtera. 

Tapi salahkah mereka yang melakukan haji berkali-kali? Bukankah biaya yang mereka gunakan adalah hartanya sendiri, bukan hasil korupsi, misalnya? Tentu saja tak ada yang salah. Tapi dilihat dari kaca mata prioritas, ibadah zakat lebih utama didahulukan, karena ia berdimensi sosial. Logika ini klop dengan sabda Rasulullah saw l<â yu’minu ahadukum hattâ yuhibba li akhihi mâ yuhibbu linafsihî, 
bahwa tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia cinta kepada dirinya sendiri.

Dalam kaidah fiqhiyyah juga dikatakan "al-muta’addy afdhalu min al-qâshir", bahwa ibadah yang manfaatnya dirasakan orang lain itu lebih utama ketimbang ibadah yang manfaatnya hanya dirasakan sendiri. Dan zakat adalah model ibadah paling efektif dan manfaatnya menyentuh langsung pada relung kebutuhan orang lain.

Begitulah. Kesalehan sosial (spiritual centrifugal) idealnya harus lebih didahulukan ketimbang kesalehan individual (spiritual centripetal). Sudah bukan waktunya kita terjebak pada simbolisasi ritus-ritus keagamaan tanpa mengindahkan substansi dan tujuannya. Sudah bukan waktunya lagi kita pamer gengsi sosial. Bukankah Nabi, dalam sejarahnya, hanya melakukan ibadah haji sekali saja, dan selebihnya hanyalah umrah semata-mata?

Haji berkali-kali, bagimanakah menurut anda?

Post a Comment

0 Comments