ads

header ads

Maling Kutang

Apa yang bisa dilakukan oleh sepotong kutang?

Sepintas, judul film yang disutradarai oleh Rako Prijanto ini terkesan sarkastik dan seolah tak menyuguhkan nilai apa pun kecuali logika humor yang 'menjijikkan'. Atau bahkan sebagian orang mungkin menuduhnya tak lebih sebagai replika Maling Kundang atau Tali Kutang Perawan. Menjijikkan, karena sebetulnya diksi kutang mewakili wilayah sensitifitas makna yang bagi sebagian orang masih dianggap tabu. Tapi justru 'ke-tabu-an' inilah yang membuat sang sutradara berani memantik satu bidikan perspektif baru tentang makna KUTANG.

Awal membaca sponsor film ini, ketika tanpa sengaja saya dan, Coel Ipins Zlamboe menemukan koran Jawa Pos di base camp IMABA Pusat beberapa hari yang lalu, otak kanan saya mengatakan bahwa Maling Kutang adalah film bergenre komedi yang akan membuat saya terpingkal-pingkal. Dan ternyata benar, perut saya pun kocak saat menonton film ini di Cinema 21 di CiTo (City of Tomorrow) Surabaya tadi malam. "Di Indonesia, Maling Kundang bisa jadi Maling Kutang", kata sobatku yang lain sambil terkekeh.


* * *


Lalu, begitu "berartikah" sebuah kutang?
Jika fenomena pamer kutang dalam konstelasi tradisi Indonesia relatif "semarak", maka film ini sepertinya hendak memberikan makna lain dari sebuah kutang. Di kota metropolitan sekaliber Surabaya, kita akan menjumpai seorang wanita berpakaian tipis yang menampilkan isi daleman alias BH atau kutang. Tanpa menggunakan kacamata tembus pandang, kita sudah dengan mudah menerawangnya. Entah motif apa yang membuat makhluk "postmodern" ini tampil seronok; apa memang lantaran kodrat wanita selalu ingin menjadi pusat perhatian dan membuat bola mata para lelaki seperti hendak meloncat atau memang pengaruh trend kosmopolitanisme yang membuat wanita itu tampil sedemikian "menggairahkan".

Atau barangkali inilah implikasi etis global warming yang membuat suhu cuaca bumi meningkat sekian derajat dari rata-rata suhu di masa lampau. Panas yang kian menyengat membuat baju tebal identik dengan keringat, dan baju tipis akan mempermudah sirkulasi udara. Atau ini memang konsekuensi logis dari "gombal warning" bahwa harga secarik kain makin melonjak naik? Entahlah...

Tapi nalar film Maling Kutang, yang dianggap sebagai 'Pemanasan Sebelum Film Menculik Miyabi', memosisikan kutang pada frame yang lebih unik dan menohok. Apa jadinya bila Anda menemukan sebuah kutang yang lusuh di jalanan, namun kutang tersebut dianggap sebagai alat untuk memajukan usaha? Ani (Kinaryosih) yang memiliki usaha warung kelontong kesal bukan main karena semua kutangnya hilang. Kemana gerangan kutang miliknya? Tak lain tak bukan, 'perabotan pribadi'nya tersebut dicuri oleh Samsul (Indra Birowo) dan Yuyun (Deswita Maharani) yang juga mengelola warung kelontong. Pasangan suami istri tersebut curiga bahwa usaha warung Ani bisa ramai pengunjung karena memiliki kutang ajaib. Disinilah kekocakan dimulai, Anda akan melihat bagaimana konyolnya usaha Syamsul dan Yuyun untuk mencuri kutang tersebut karena dianggap barang mistis pembawa keberuntungan.

Dengan perspektif ini, film Maling Kutang sepertinya hendak menelanjangi berbagai praktik ritualisme sebagian besar bangsa ini. Semacam refleksi aksiologis, barangkali. Karena suaka atau tidak, tradisi "dukun-isme" tidak hanya menjadi persoalan mistis rakyat populis-ploretar yang ingin cepat keluar dari nasibnya yang terjepit, tetapi juga sudah merasuk pada ranah kaum elitis-borjuis bangsa ini. Konon, para pejabat tinggi negara pun punya "penasehat spiritual" khusus untuk menangani permasalahan yang menimpanya.

Film yang dibanjiri para pemain sitkom di televisi ini menampilkan kekocakan mereka dalam usaha mendaptkan sebuah kutang. Dan perburuan kutang memang menjadi inti narasi film produksi Maxima Pictures yanng telah menggebrak perfilman Indonesia dengan mendatangkan artis Hoolywod Heather Storm di film Paku Kuntilanak yang beradu akting dengan penyanyi dangdut Dewi Persik ini.

Anda penasaran? Silahkan meluncur ke bioskop terdekat atau tunggulah sampai ada warnet holic yang meng-uploadnya di internet (yang terakhir khusus untuk sobat yang kere...

Post a Comment

0 Comments