ads

header ads

Sekuntum Doa untuk Bunda

Bunda...
Tak ada yang patut diawali dalam rislah sunyi ini kecuali untaian kata maaf, karena barangkali anakmu yang durhaka ini terlambat menyuguhkan ucapan selamat. Meski hanya ucapan, semoga saja menjadi kenyataan, bukan hanya kepura-puraan, apalagi sekedar seremonial yang dipaksakan. Itu yang ku inginkan.

Bunda...
Setiap tanggal 22 Desember, namamu selalu disebut-sebut orang dan dirayakan dengan gegap gempita. Manusia di jagat ini berlomba-lomba mengagungkanmu dengan lantunan kata-kata, mungkin juga rajutan doa-doa. Beragam festival digelar, bermacam hajatan diselenggarakan. Ada lomba merangkai puisi dengan tema Ibu. Ada lomba memasak, tataboga dan sejenisnya. Entah benar atau tidak, konon, semuanya dilakukan hanya untuk memuliakanmu, mengagungkanmu dan mengenang jasa-jasamu...

Bunda...
Sungguhpun telah kuciptakan jutaan sajak untuk memujimu, niscaya kemuliannmu belum terlampaui. Sembilan bulan kau mengandungku, adalah keajaiban besar yang diabadkan sejarah. Maka tidak berlebihan bila kebesaran jiwamu adalah tonggak peradaban dunia. Dan kelahiran dunia adalah keringat-keringat surgawimu...

Bunda...
Malam-malam di perantauan adalah gelora kesunyian. Maka mengingatmu adalah kerinduan yang menentramkan, apalagi ketika wajahmu tiba-tiba hadir dalalm doa panjangku. Malam pun bergerimis, menyemai bait-bait tangis. Ah, kerinduan itu....

Bunda...
Izinkan anakmu memanggil namamu dengan sebutan BUNDA, meski sebelumnya sering memanggilmu EMAK. Tak usah malu, Bunda, karena aku, anakmu, sungguh benar-benar menyayangimu...

Dan doaku selalu menyertaimu...

22 Desember 2009

Post a Comment

0 Comments