ads

header ads

Belajar pada Psikologi Dusta


Ada hal menarik yang barangkali patut kita renungkan dari sisi esoteris kehidupan manusia, yakni psikologi dusta. Dalam diskursus psikoanalisa Sigmund Frued, seorang filsuf Jerman teremuka, manusia memang memiliki alter ego, yang divisualisasikan dengan ”wajah bertopeng” dan mampu berubah-rubah seperti Bunglon sesuai dengan konteks afiliasinya.



Lalu apa hubungan antara psikologi dusta dengan kontes pre-review yang diselenggarakan oleh Clara Canceriana, penulis produktif yang sebagian karyanya dituangkan dalam blognya? Baiklah. Mari sejenak kita hayati dengan penuh kejujuran, dengan fokus pikiran pada topik kita kali ini dengan menjawab satu pertanyaan yang kita ajukan untuk diri sendiri; apa yang menyebabkan kita suka (bahkan kalau membaca Kho Ping Hoo, saya kuat semalam suntuk!) membaca novel, cerpen, atau tulisan dengan bentuk fiksi yang memang nyata-nyata fiktif alias racikan imajinasi belaka?


Barangkali karya sastra akan tetap dibaca masyarakat , betapapun itu bukanlah hal yang nyata. Ini menyangkut selera nurani, bahkan naluri : bahwa manusia tidak selalu ingin yang nyata. Ia juga ingin imajinasi yang kaya. Begitu kata Faizi el-Kaelan ketika membedah novel The Road to The Empire karya Sinta Yudisia. Maka novel, sekuat apapun data-data faktual yang dirujuknya, tetaplah menjadi karya fiksi. Karena itu, seseorang yang bersiap-siap membaca sebuah karya fiksi, sepatutnya ia juga menyadari bahwa ia akan berhadapan dengan sebuah “cerita yang tak ada”.

Akan tetapi karya sastra, betapapun “tak ada”, akan tetap mampu mempengaruhi paradigma pembacanya. Ini tentu maklum, karena karya sastra jauh dari kesan indoktrinatif dan tidak pernah menggurui pembacanya, melainkan mengajak pembacanya melakukan refleksi dengan santun dan bijak. Ia selalu menyisakan ruang tafsir yang beragam untuk ditelusuri konteks pemaknaanya.

Begitulah signifikansi karya sastra, dengan rangkaian kata-kata yang bisa membangun peradaban dunia. Dan karena sastra bermain dengan dunia kata-kata, maka ia selalu menyuguhkan keindahan yang menggetarkan. Kita bebas berimajinasi sesuai selera, bahkan dengan naluri kenakalan kita yang kadang-kadang memang liar. “Ketika teks dilempar ke ruang publik, maka ia telah hidup dengan nafasnya sendiri”, begitu tesis Roland Barthes, salah seorang tokoh hermeneutika modern.

Lalu, bagimana jika kemudian ada nubuat cinta yang terbangun di atas pondasi dusta? Atau jangan-jangan memang beda tipis antara cinta dengan dusta?

Itulah asumsi awal ketika saya membaca sinopsis novel Rain Affair, sebuah karya fiksi romantis yang membuat saya tertarik untuk membacanya. Bahkan kalau perlu membedahnya! Saat ini, saya hanya bisa meraba kulit luarnya, tanpa mampu bersenggama dengan jalinan romatikanya yang memukau! Betapa tidak, saya kerap membayangkan irama hujan selalu mengiringi perjalanan cinta segitiga ini, dengan balutan kepalsuan yang menyakitkan!

Ah, Rain Affair! Sunguh, sebuah pilihan judul yang menghipnotis!

Sepintas, ditelisik dari makna harifiah-nya saya teringat pada novel Ciuman di Bawah Hujan (CBH) karya Mbak Lan Fang. Tapi tentu sangat beda! Bantah saya berargumen, sok tahu. Karena meskipun sama-sama memakai diksi hujan sebagai assosiasi metaforis yang menyusun bangunan cerita romantisnya, CBH lebih condong untuk memaparkan wacana politik sebagai pesan moral yang sengaja diusung. Sementara Rain Affair? Saya angkat tangan! Sepertinya, rakitan ceritanya lebih kompleks dan rumit, pun juga menohok! Entahlah...

Novel dengan tema cinta memang telah banyak mengisi rak-rak di toko buku, apalagi cinta gaya kaum moralis, tapi cinta yang dusta dan dirangkai dengan nyanyian hujan? Mungkin masih jarang, atau bisa saja karena keterbatasan saya dalam mengonsumsi novel berjenis serupa, sehingga anggapan saya keliru.

Apapun yang bisa kita dapatkan dari sebuah karya sastra, tetaplah harus kita apresiasi. Apalagi kalau sampai mampu diresensi, dibedah dan dikritisi. Karena salah satu tujuan dari kritik sastra adalah membangun untuk kemudian di hayati. Dan sepertinya, apa yang telah dilakukan Clara Canceriana adalah langkah mulia untuk selalu berbenah diri.

Akhirnya, semoga Tuhan mentakdirkan saya untuk menikmati tarian hujan dalam novel Rain Affair. Semoga…

Pamekasan, 07 Juni 2010

Note:
Tulisang singkat di atas saya ikutkan dalam kontes pre review Novel Rain Affair karya Clara Canceriana. Untuk Mbak Clara, sorry ngirimnya mungkin paling akhir. Tapi semoga aja masih diterima menjadi peserta.

Post a Comment

0 Comments